Jakarta - Hubungan antara mertua dan menantu kerap diwarnai dinamika yang kompleks, bahkan tidak jarang meninggalkan luka emosional yang dalam—khususnya bagi pihak menantu. Ketika mertua menunjukkan perilaku atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, dampaknya bisa bertahan lama dan memengaruhi kesehatan mental, meskipun pasangan kita sudah berusaha membela.
Di tengat budaya Indonesia yang menuntut interaksi harmonis dengan keluarga besar, menghindari mertua seringkali bukan pilihan. Lalu, bagaimana cara mengatasi trauma emosional yang disebabkan oleh hubungan yang sulit ini?
Berikut beberapa langkah yang dapat membantu, berdasarkan perspektif psikolog:
1. Akui dan Validasi Perasaan Anda Langkah pertama dan terpenting adalah mengizinkan diri Anda merasakan semua emosi yang muncul—tanpa menyangkal atau mengabaikannya. Merasa sedih, kecewa, atau terluka adalah hal yang wajar. “Saat seseorang menyakiti kita, wajar jika kita merasa tidak nyaman. Jangan memaksakan diri untuk baik-baik saja,” ujar seorang ahli psikologi. Dengan mengakui perasaan, kita memberi diri kesempatan untuk memproses emosi secara sehat.
2. Jaga Batasan yang Sehat Anda berhak menentukan batasan dalam berinteraksi dengan mertua. Tidak semua komentar atau perilaku harus diterima. Cobalah komunikasikan dengan sopan namun tegas, atau batasi intensitas pertemuan jika diperlukan. Yang terpenting adalah melindungi kesejahteraan mental Anda.
3. Cari Dukungan dari Pasangan atau Lingkaran Terdekat Bicarakan perasaan Anda kepada pasangan, sahabat, atau keluarga inti yang dapat dipercaya. Dukungan emosional dari orang terdekat dapat meringankan beban dan membantu Anda merasa tidak sendirian.
4. Luangkan Waktu untuk Self-Care Trauma emosional membutuhkan proses penyembuhan. Beri diri waktu untuk melakukan aktivitas yang menenangkan dan menyenangkan, seperti meditasi, menulis jurnal, atau menekuni hobi.
5. Pertimbangkan Bantuan Profesional Jika luka emosional sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor. Terapi dapat membantu Anda memahami dan memulihkan luka tersebut dengan pendekatan yang tepat.
Hubungan keluarga memang rumit, namun Anda tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Yang terpenting, ingatlah bahwa kesehatan mental Anda adalah prioritas.
